»

Laman

Jumat, 12 September 2014

Prosedur Kritik Sastra Pengudaran Naskah

Pengudaran naskah atau (Explication de texte) merupakan metode yang dipergunakan seorang pembaca (kritikus) yang mana dirinya langsung berdialog dari hati ke hati dengan karya sastra yang dihadapinya tanpa perantara siapapun. Ditinjau dari prinsip-prinsip kerjanya, metode pengudaran naskah bertolak dari pendekatan objektif yaitu yang memusatkan kajiannya pada karya sastra itu sendiri. Dengan kata lain, pendekatan ini memandang dan menelaah karya sastra dari segi intrinsiknya.
Prinsip metode pengudaran teks adalah menganalisis karya sastra secara langsung dengan segenap pengalaman dan pengetahuan kritikus sehingga memperoleh pemahaman yang orisinal mengenai karya sastra yang bersangkutan. Dengan metode ini, kritikus terikat pada konvensi atau kaidah yang substansinya relevan dengan karya sastra, yaitu:
1.      Menganalisis dunia pengarang,
2.      Menganalisis segala unsur dan aspek karya sastra,
3.      Merumuskan hasil analisis itu sedemikian rupa sehingga terungkaplah penafsirannya yang orisinil.
Tujuannya adalah menemukan segala makna yang tersembunyi di dalam karya sastra dengan pandangan dasar bahwa karya sastra apapun merupakan sebuah organisme yang utuh dan lengkap dengan segala unsurnya sendiri.
Karya sastra dengan metode ini merupakan gabungan penelitian ilmiah dan kritik yang seasli-aslinya. Ruang lingkupnya meliputi tiga hal yang secara hakiki berkenaan dengan sbuah karya sastra, yakni :

Surat untuk Sahabat: Menanti Rona

Note: Dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Surat untuk Sahabat yang diadakan Radar Kediri, Radar Nganjuk, dan BNN Nganjuk tahun 2014
                                                                        

Dear Rona, My Livelong Playmate ...
Apa kabar kawan masa kecilku? Apakah harimu masih indah se-indah mimpi-mimpimu di kala kau beranjak sepuluh tahun? Mimpi yang pernah kau gumamkan saat bibir mungilmu meniup lilin di atas kue tart bertumpuk tiga tingkat itu? Mimpi yang dua tahun kemudian melebur bersama aspal-aspal jalanan, merenggut, dan mengubur hidup-hidup segala keindahan masa sekolahmu. Beban hidup yang kau tanggung seorang diri, memaksamu menyelami panasnya metropolitan, bergumul dengan puluhan pengais nafkah jalanan, bahkan membaringkanmu di emperan toko di kala matahari pun enggan memicingkan matanya.
Apa kabar Rona, teman bermain dan mengajiku? Apa kau masih saja bergumul dengan hitamnya pelangi yang tak menjanjikan secuil mimpi, yang hanya memberikanmu paranoid ketika kau bersamanya? Hanya pil-pil pahit ini sebab kau ingin mencari pelipur lara. Kau torehkan kulit putihmu dengan jarum suntik sebagai bagian upaya lari dari segala kelam. Mungkin jalan ini tak sepenuhnya keinginanmu, Sayang. Aku berusaha memahami. Kau tak biasa hidup dalam ke-sebatangkara-an. Kau terlahir dengan cukup indah, dengan ayah bundamu yang senantiasa mencurahkan kasih sayang. Tentu kau tak perlu banyak merengek untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Ingatkah saat kau membuat iri banyak temanmu ketika ayahmu membawakanmu segudang mainan? Lantas dengan senang hati kau bagikan mainan-mainan itu ke temanmu-temanmu yang tak seberuntung kamu. Sungguh mulia hatimu, Rona.