»

Laman

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Mei 2014

Puisi Perpisahan: Sajak Angkatan ‘14

Note: Sajak pertama yang pernah saya buat untuk teman-teman seperjuangan di MAN Kota Kediri 3 angkatan 2014
Setiap perpisahan pasti akan membawa perjumpaan yang lebih baik. Thank's all :D

Dentang detik kini mengudara, terhempas angin, mengalir dalam muara
Masih kita terpacu di sela daya dan juang, menorehkan asa yang terbakar membara
Pernah juga kita lahap habis ego dan pandangan, lantas juga terbit maaf dan jabat tangan
Pernah suatu ketika tersisa hujan air mata dari kepergian yang tiada terkira
Pernah sesekali tertinggal canda dari kebersamaan yang melanda
Ijinkan kusematkan salam perpisahan, untukmu yang pernah hadir dan mengukir
Ijinkan aku sembahkan salam maaf, untukmu yang pernah menangis dan kemudian terkikis
Mari kawanku seperjuangan, kita buka lembar sinema yang pernah kita perankan.
Kita pernah bermimpi. Mungkin pernah jatuh terbaring tapi bukankah kawan selalu berdiri mengiring?
Pernah juga kita berselisih, berkompetisi dalam prestasi, bahkan saling berebut gengsi
Mungkin kita pernah jemu, namun esok kan kaurindu noltalgia yang pernah kita ramu
Kita pernah belajar dari rumitnya trigonometri, kerancuan ekonomi, atau gagapnya teknologi
Juga pernah kita hafal geografi hingga sistem birokrasi negeri ini.
Namun kita tak sempat pelajari apa yang kita lewati
Mungkin sajak hanya sajak, tak mampu memberi apa itu yang abadi
Sampai jumpa di masa depan, Kawan..
Dalam rindu namamu teriring, di setiap nafas doaku bergeming.


Amalia Safitri Hidayati (Amalia Sahid) 

Kediri, 2-3 Mei 2014




                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          



Senin, 05 Mei 2014

Terima Kasih, Kekasih

Note : Pernah dikirim untuk lomba puisi cinta untuk kekasih yang diselenggarakan oleh AuraIde
________________________________________________________

Terima kasih, kekasih
Kau benamkan mendung dalam mataku
Jatuh dalam titik bayang pandangmu
Aku takbisa menolak, kekasih
Aku sudah buta, hanya hatiku berkata
Terima kasih, kekasih
Kau elokkan yang suram itu
Bertumpu di titik jurang sikapmu
Aku hanya bisa menerima
Aku sudah mati, hanya hatiku mencari
Terima kasih, kekasih
Penerimaanmu alirkan kembali darah merah mudaku
Kau maniskan telaga kepayauanku
Aku sudah bunga, hanya hatiku menganga
Terima kasih, kekasih
Kau t’lah lahirkan cinta dalam mandulnya kesendirian
Lalu, aku bisa apa, kekasih?
Jika kau terlalu sempurna ‘tuk kembali di hati

   Amalia Safitri Hidayati


Sabtu, 30 November 2013

Phytagoras dalam Kelas

Di kursi coklat usang aku menyepi
Membelai memori yang tak kunjung ganti
Ah, dia lagi! Mengapa sepagi ini?
Kucoba menoleh, membelakangi garis takdir
Dan takdirku sebatas garis tidur
Yang menjadi ranjang antara kau dan hipotenusa
Bukankan begitu di matamu, Sayang?

Kugantung senyum melengkung, walau melihatmu aku berperang jantung
Tak apa, memang dulu kau garis tegakku
yang selalu kau gambar jalan siku-siku antara kau dan aku
Kau dan aku di usangnya meja bangku ,
Tegak lurus menulis lembar kisah cinta yang memaku.
Bukankah itu kenangan, Sayang?

Dan kini garis tidur akan menghitung mundur
Seolah diatur dentang detik pada jam kelas kita
Kau mulai menitik garis di lembar kisah cinta
Entah mengapa garis itu kau buat panjang, melampaui hari kita berjumpa
Oh, diakah hipotenusa, Sayang?
Garis miring asing yang menyingkirkanku dari perhitunganmu
Dan aku memaku, membiarkan kau tegak bersama hipotenusa,
di punggung ranjang garis tidurku.


Amalia Sahid
Di pinggir padatnya Kediri, 
30 Nov '13

Selasa, 26 November 2013

30 Kumpulan Tweet Sajak Senja




1.      @CeritaMayang  
Aku masih di sini meneduhkan setiaku sambil mendengar celoteh hujan di musim rintik air yang sama hingga senja datang menjemput. #sajaksenja
2.      @_mustakim
"kulihat jinggamu dibalik mendung pagi ini...sungguh memesona bak sepercik cahaya dalam kegelapan" #sajaksenja
3.       @dianipr
Mendung menggantung warna jingga. Semburat lembayung di antara mega. Angin meniup suara keramaian. Kelip cahaya dari kejauhan. #sajaksenja
4.      ‏@nduy_oioi  
Kamu tidak lagi semanis teh dalam Cangkir kecil ini, Karna, kini kamu hanyalah sebuah ampas yang terbuang di pinggiran Jalan.. #SajakSenja
5.      @rizawardhana  
Kekasih, enak ya kita, yang lain mengharapkan hubungan status. Sedang kita tnp status dan kita meramu kasih dg fluktuative. #sajaksenja
6.      ‏@fitnst  
dia begitu hangat saat menuju gelap, memberi teduh dan berpijar cantik . bisa tolong sampaikan aku rindu melihatnya ? #sajaksenja
7.      @_chaaaachaaaa  
Jatuh cinta mungkin bisa beberapa kali, tp utk mengacuhkan perasaan ke orang lain & tetap mencintai 1 orang saja, itu komitmen. #SajakSenja

Ksatria, Putri, dan Bintang Jatuh


Ksatria jatuh cinta pada putri bungsu dari kerajaan bidadari.
                                                           Sang Putri naik ke langit.
Ksatria kebingungan.
Ksatria pintar naik kuda dan bermain pedang, tapi tidak tahu caranya terbang.
Ksatria keluar dari kastel untuk belajar terbang pada kupu-kupu.
Tetapi, kupu-kupu hanya bisa menempatkannya di pucuk pohon.
Ksatria lalu belajar pada burung gereja.
Burung gereja hanya mampu mengajarinya sampai ke atas menara.
Ksatria kemudian berguru pada burung elang.
Burung elang hanya mampu membawanya ke puncak gunung.
Tak ada unggas bersayap yang mampu terbang lebih tinggi lagi.
Ksatria sedih, tapi tak putus asa.
Ksatria memohon pada angin.
Angin mengajarinya berkeliling mengitari bumi,
Lebih tinggi dari gunung dan awan.
Namun, sang Putri masih jauh di awang-awang,
Dan tak adaangin yang mampu menusuk langit.
Ksatria sedih dan kali ini ia putus asa.

Jumat, 22 November 2013

Protektif!

Hari in pesanku kian aktif
Menjagamu dengan penuh sensitif
Aku kian adiktif, ingin tahu posisi dan lokasi
Tapi kamu anggap selalu basi
Kamu merasa terisolasi
Oke, aku tak mau agresif
Karena itu tak positif.
Bagi kita yang selalu serasi,
aku anggap itu cobaan hati
Aku kini selektif
Menjaga perasaanmu yang kian sensitif
Tapi kamu anggap aku pasif
Tak peduli dan kurang inisiatif
Oke, aku tak mau selisih
Aku putuskan, aku tersisih
Dan aku tak bisa memilih
Dan aku, kamu, kita, hanya bisa protektif.

Di  sudut ruang keluarga yang penuh protektivitas,
22 Nov ‘13

Kamis, 21 November 2013

Kumpulan Tweet Puisi Kontemporer


Ikhlas & strong Ikhlas ya ikhlas Strong ya strong Kalo gak strong ya gak ikhlas Kalo gak ikhlas ya harus strong #PuisiKontemporer
  • @Qyu_quartine95  
Laper lagi laper lagi lagilagi laper lagi laper gila laper laper gila perla perla lagi gila gila lagi laper laper gilaaa #PuisiKontemporer

  • @Pithasarii  
Durindudurindu rasuarasuara dijungujung pontelepon #puisikontemporer
surammu suramku suramnya ... suramsuramsuram ... rintang rintih rintis ... passpasspass ... #PuisiKontemporer
  • @DRJunisaf
Kamu. Aku suka kamu. Kamu suka aku. Dia suka kamu. Tapi kamu ga suka dia. Aku sama kamu. Kamu sama aku. Aku dan kamu. Kita #puisikontemporer

Senin, 18 November 2013

Mimpi Si Kecil



Note: Hasil analisis film “Segenggam Asa” dalam puisi pada Lomba Adu Cinta Bahasa Indonesia II 2012 dalam rangka memperingati bulan bahasa yang diadakan di Universitas Negeri Malang Jurusan Sastra Indonesia.


 
Mimpi Si Kecil
(Amalia Sahid)

Mentarimu mulai mengintip
Bergumul di lorong-lorong sempit
Namun ...
Selimut tipis masih berpendar
Halaukan pagimu yang pudar

Riakan air sungai
Iringi langkahmu yang gontai
Lambungkan mimpi-mimpi melambai
Namun ...
Setan itu mengintaimu, Kawan!
Runyamkan segala yang menawan

Laksana kemarau singgah di penghujan
Kau gontai di aspal-aspal hitam
Bergumul dengan setan-setan jalanan
Namun ...
Tak lunturkan segala yang legam

Langkahmu masih mengalir, Kawan!
Berkawan dengan ribuan recehan
Tawarkan berlembar warta harian
Namun ...
Setan itu mengintaimu, Kawan!
Runyamkan segala yang menawan
Mimpi si kecil turut terkapar
Lenyap ditelan setan-setan kejahatan

Kamu tetap berjalan, Kawan!
Bawa kehampaan belaka
Mimpi si kecil sebatas fatamorgana
Berpendar ...
Berpendar ...
Surut ditelan asa

Di Kota Malang, 2012

Kado buat Ulaila



Note: Sekadar ini yang bisa aku berikan pada teman kecilku, Nova Ulaila Dewi Nur Mahmudah. Selamat ulang tahun ke-16, semoga bahagiamu selalu diiringi rahmat-Nya J
 

Kado buat Ulaila
(Amalia Sahid)

La, harusnya kamu bahagia
Disambut teman-teman pada kedatanganmu pagi itu
Sekadar ucapan selamat, tak lebih dari cukup
Semoga kamu berkenan
La, kenapa kau tak tersenyum
Apa mentarimu belum menyapa pagi ini
Ataukah hari ini terasa biasa bagimu
Oh, jangan begitu!
La, tahukah kamu apa kado enam belas tahunmu?
Bukan, bukan sekadar barbie kesukaanmu
Atau makanan coklat yang terlihat sudah biasa
Jangan, jangan berpikiran begitu!
Itu bukan kado buat orang dewasa seperti kamu
La, ini bukan sekadar kado tentang apa, melainkan tentang mengapa
Mengapa kami berdoa untukmu di sela gelisahmu pagi ini?
Mengapa kami memohon pada Tuhan agar kamu bisa tersenyum hari ini?
Dan mengapa kami takhenti bersyukur t’lah punya kamu di dunia ini?

Karena Ulaila tak tercipta dengan apa, kamu tercipta dengan kata mengapa  yang menjawab seribu satu alasan mengapa kamu dilahirkan.

Pada malam insomnia, 18 November ‘13




Sabtu, 16 November 2013

Naufalia di Ujung Fajar- Amalia SaHid


Naufalia bergegas
Merapikan lembar-lembar kecemburuan
Dalam rak hatinya yang kian rapuh dimakan cinta.
Ia terus menapakkan kakinya dalam medan berombak
Lukisan ombak dimatanya kian mengalir
Semburat senyum di bibir mungil belum jua terukir.
Naufalia tak sabar, ia menerka-nerka takdirnya
Ia susun kembali lembar sinema yang tak kunjung tamat
Ia teriris, memaki takdir yang kian menyudutkan.
Naufalia kembali menatap
Bunga mawar menunduk dengan kelopak menghitam
Sang fajar telah menitipkan hatinya disana
Yang kini menetap, enggan pergi
Meski sang penghuni tak jua kembali
Naufalia bertanya pada dosa-dosa
Tapi dosa tinggalah dosa
Tuhan memaafkan, mungkin sang fajar berkata lain
Sang fajar telah beku, hinggap di hati tetangga
Luka Naufalia kian menganga
Sedang sang bunga tak lagi bicara
Ia tlah putus asa terbakar takdir.
Naufalia bergegas
Ia sekarat, ia berjuang, kemudian ia hidup
Ia tulis lagi sinema takdirnya
Ia susun episode-episode hidupnya
Naufalia bebas dari mimpi sang fajar
Ia topang hatinya bersama tiang-tiang senja
Seterusnya, tanpa bunga, tanpa fajar.

Di kebekuan subuh, 17 November ‘13