»

Laman

Minggu, 11 Mei 2014

Nulis Biografi, Yuk!

Dalam pengantar biografi Kurt Cobain, Heavier Than Heaven, Charles R. Cross menuliskan perjuangannya mengumpulkan ribuan dokumen, ratusan keping cakram, dan 400 wawancara vokalis grup band Nirvana itu. Hasilnya, sungguh ciamik. Ia menampilkan Cobain ke tengah pembaca seperti sutradara film tiga dimensi. Begitu hidup. Termasuk saat menggambarkan detik-detik menjelang sang legenda mengulum ujung sejata dan menghujamkan pelor ke otaknya.

Sayang, tak banyak penulis biografi kita yang memiliki kemewahan seperti itu, "Kebanyakan penulisan biografi didasarkan atas penggalian satu sumber, yaitu tokoh yang akan dibiografikan," kata Maman Gantra yang terlibat dalam penulisan 11 biografi. "Akibatnya yang keluar bukannya biografi, tapi lebih seperti otobiografi."

Itu dapat dimengerti karena buku-buku biografi yang belakangan membanjiri rak toko buku adalah pesanan sang tokoh sendiri. Akibatnya, sudut pandang sang tokoh menjadi faktor terpenting. Kalau pun ada sumber lain, itu harus seizin, atau paling tidak mendukung keinginan sang tokoh. "Biasanya cuma untuk konfirmasi sejumlah data, tapi pun tidak bisa sepenuhnya dilakukankarena keterbatasan dokumentasi sejarah disini," kata Maman.

Masih lumayan jika sang tokoh memang memiliki kisah hidup yang cukup menarik, seperti Andi Matalatta yang biografinya, Meniti Siri dan Harga Diri, ditulis oleh Maman. IA cukup mengirim pertanyaan dan sang jenderal akan mengetikkan sendiri kisah hidupnya secara lengkap dan terperinci. "Saya tinggal mengeditnya, karena kisah hidupnya memang luar biasa," kata Maman.

Tapi bandingkan dengan pengalamaan seorang penulis biografi lain yang minta namanya tak disebut, Ia mengaku sering pusing tujuh keliling karena tokohnya tidak memiliki catatan prestasi yang cukup baik, terutama di masa mudanya. "Akhirnya saya harus mengakali dengan dengan mengait-ngaitkannya dengan

Selasa, 06 Mei 2014

Puisi Perpisahan: Sajak Angkatan ‘14

Note: Sajak pertama yang pernah saya buat untuk teman-teman seperjuangan di MAN Kota Kediri 3 angkatan 2014
Setiap perpisahan pasti akan membawa perjumpaan yang lebih baik. Thank's all :D

Dentang detik kini mengudara, terhempas angin, mengalir dalam muara
Masih kita terpacu di sela daya dan juang, menorehkan asa yang terbakar membara
Pernah juga kita lahap habis ego dan pandangan, lantas juga terbit maaf dan jabat tangan
Pernah suatu ketika tersisa hujan air mata dari kepergian yang tiada terkira
Pernah sesekali tertinggal canda dari kebersamaan yang melanda
Ijinkan kusematkan salam perpisahan, untukmu yang pernah hadir dan mengukir
Ijinkan aku sembahkan salam maaf, untukmu yang pernah menangis dan kemudian terkikis
Mari kawanku seperjuangan, kita buka lembar sinema yang pernah kita perankan.
Kita pernah bermimpi. Mungkin pernah jatuh terbaring tapi bukankah kawan selalu berdiri mengiring?
Pernah juga kita berselisih, berkompetisi dalam prestasi, bahkan saling berebut gengsi
Mungkin kita pernah jemu, namun esok kan kaurindu noltalgia yang pernah kita ramu
Kita pernah belajar dari rumitnya trigonometri, kerancuan ekonomi, atau gagapnya teknologi
Juga pernah kita hafal geografi hingga sistem birokrasi negeri ini.
Namun kita tak sempat pelajari apa yang kita lewati
Mungkin sajak hanya sajak, tak mampu memberi apa itu yang abadi
Sampai jumpa di masa depan, Kawan..
Dalam rindu namamu teriring, di setiap nafas doaku bergeming.


Amalia Safitri Hidayati (Amalia Sahid) 

Kediri, 2-3 Mei 2014




                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                          



Kumpulan Tweets Maman Suherman (NoTulen Indonesia Lawak Klub)

  1. Hidup adalah perjalanan menuju pulang
  2. Walau sy bkn org baik, ttp saja sulit percaya klau dunia sdh segila ini
  3. memaafkan memang mudah, yang susah itu mempercayai kembali...
  4. Dan sembuhkan luka org yang melukaimu
  5. Tuhan menciptakanmu dg sempurna, jgn underestimate dg dirimu...
  6. Menulis itu satu hal, dan apa yang ada di dalam hatimu adalah hal lain...
  7. Orang takut pada apa yang dia tidak ketahui...
  8. Jangan sampai di tubuhnya melekat keringat pelacur. Peluk dia untukku
  9. Anak kita, masih duduk di bangku SD, kl tidak jadi pembunuh, ya jadi korban yg terbunuh..... miris....
  10. Kl hardik, bentak dan gebuk sj sudah dipamerkan sejak dari dalam rumah, kita telah ikut melahirkan anak2 calon pelaku kekerasan...
  11. Simpul2 kekerasan terus dipamerkan, bahkan di ajang terhormat, diskusi antar (katanya) orang hebat di layar kaca sekali pun....
  12. cctv cuma "alat rekam" bukan jawaban pamungkas utk menghentikan kekerasan dan perundungan seksual....
  13. Ketika sikap disiplin, bertanggungjawab dan tangguh dlm mental dilatih dan ditempa dg aksi kekerasan dan pembunuhan (karakter)....
  14. Kekerasan itu pada hakikatnya bukan unsur budaya, kalau sampai lahir budaya kekerasan, sdh semestinya mencari dan memusnahkan akarnya...
  15. bahkan yg sudah menikah pun belum tentu berjodoh....
  16. Rahasia agar tak putus cinta..... Jangan jatuh cinta
  17. mantan itu guru yang mengajarkan indahnya terluka... Yg mengubah kepompong menjadi kupu-

Senin, 05 Mei 2014

Terima Kasih, Kekasih

Note : Pernah dikirim untuk lomba puisi cinta untuk kekasih yang diselenggarakan oleh AuraIde
________________________________________________________

Terima kasih, kekasih
Kau benamkan mendung dalam mataku
Jatuh dalam titik bayang pandangmu
Aku takbisa menolak, kekasih
Aku sudah buta, hanya hatiku berkata
Terima kasih, kekasih
Kau elokkan yang suram itu
Bertumpu di titik jurang sikapmu
Aku hanya bisa menerima
Aku sudah mati, hanya hatiku mencari
Terima kasih, kekasih
Penerimaanmu alirkan kembali darah merah mudaku
Kau maniskan telaga kepayauanku
Aku sudah bunga, hanya hatiku menganga
Terima kasih, kekasih
Kau t’lah lahirkan cinta dalam mandulnya kesendirian
Lalu, aku bisa apa, kekasih?
Jika kau terlalu sempurna ‘tuk kembali di hati

   Amalia Safitri Hidayati