»

Laman

Sabtu, 27 September 2014

Analisis Novel "Belantik (Bekisar Merah II)"

Belantik (Bekisar Merah II)
2.      Pengarang Novel                     : Ahmad Tohari
3.      Tahun terbit                             : 2001
4.      Penerbit                                   : PT Gramedia Pustaka Utama
5.      Jumlah Halaman                      : 142 halaman
6.      Unsur-Unsur Intrinsik             :
·   Tema   : Liku-liku perjalanan hidup Lasi dari gadis dusun menjadi wanita sosialita.
·         Tokoh dan Penokohan                        :
a.       Lasi                       : Lugu, sederhana, setia, penurut, mudah ditipu.
b.      Kanjat                   : Pandai, setia, sederhana, rela berkorban.
c.       Pak Bambung        : Licik, haus akan kekuasaan, gila wanita, tega.
d.      Handarbeni           : Haus akan kekuasaan dan materi, keras kepala, pemarah.
e.       Bu Lanting            : Materialistik, genit, suka menipu, licik.
f.       Eyang Mus            : Baik hati, sederhana, bijaksana.
g.      Pak Min                 : Sederhana, patuh pada atasan, penganut paham kejawen.
h.      Bu Min                  : Cerewet, baik hati, suka menolong.
i.        Pardi                      : Cekatan, suka menolong.
j.        Blakasuta              : Suka menolong, baik hati.
·      Latar                                        :
a.       Latar tempat                      :
Ø  Jakarta       : Perkantoran, perumahan elite di timur Bundaran HI.
Ø  Singapura  : Pusat perbelanjaan, hotel.
Ø  Karangsoga: Rumah Lasi, rumah Eyang Mus, Musholla.
Ø  Di dalam kapal yang sedang berlayar dari Karangsoga menuju Sulawesi.
b.      Latar waktu                       : Peristiwa pada novel ini tidak diketahui dengan pasti kapan terjadinya. Novel ini hanya menunjukkan bahwa peristiwa terjadi pada pagi, siang, sore, dan malam hari,
c.       Latar suasana                     :
Ø  Menyedihkan        : Terjadi ketika penulis menceritakan jalan hidup Lasi sejak ia menikah dengan Darsa hingga ia menjadi simpanan Pak Bambung.
Ø  Mengharukan        : Terjadi pada saat Lasi menikah dengan Kanjat dan pada saat pertemuan Lasi dengan Kanjat di Rutan.
Ø  Menegangkan       : Terjadi pada saat penangkapan Lasi di dalam kapal oleh polisi.
Ø  Membahagiakan   : Terjadi pada saat Lasi mengetahui bahwa ia hamil anak Kanjat dan pada saat Lasi diputuskan bebas oleh pihak kepolisian.
d.      Alur                                   : Novel ini menggunakan alur maju, karena diawali dengan perkenalan para tokoh kemudian dilanjutkan dengan jalan hidup tokoh.
e.       Gaya bahasa                      : Gaya bahasa penulis banyak menggunakan kata-kata konotasi dalam penyampaian jalan ceritanya. Selain itu banyak menggunakan istilah-istilah tidak baku. Penulis juga menyisipkan pepatah-pepatah Jawa untuk menyelaraskan dengan jalan cerita.
f.       Sudut pandang                  : Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga serba tahu.
g.      Amanat                              :
Ø  Berpikirlah sebelum bertindak sesuatu, janganlah terlalu menuruti kemauan orang lain. Kita harus tahu mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak.
Ø  Kekuasaan dan materi bukanlah segalanya. Janganlah kita menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu duniawi kita, karena akibatnya akan sia-sia.
Ø  Menjaga kesuciaan bagi wanita adalah hal yang sangat penting untuk menghormati suami.

7.      Sinopsis Novel “Belantik (Bekisar Merah II)”
Kisah pada novel ini bermula dari kebingungan Handarbeni dalam menghadapi Pak Bambung yang menjadi atasannya. Pak Bambung yang tenar karena menjadi pelobi besar di kalangan para pejabat ini menginginkan istri Handarbeni yang bernama Lasi. Lasi, seorang gadis dusun yang kabur dari Karangsoga ini ditemukan oleh Bu Lanting, seorang mucikari profesional dari Kota Jakarta, saat ia kabur lantaran sakit hati ditinggal kawin oleh suaminya yang pertama bernama Darsa.

Lasi disebut “bekisar merah” lantaran wanita cantik ini berdarah campuran Ambon-Jepang. Banyak pejabat-pejabat kelas tinggi yang menginginkan Lasi untuk menjadi pendamping hidupnya. Bu Lanting sengaja membantu Pak Bambung untuk mendapatkan Lasi dengan cara liciknya. Ia mengajak Pak Bambung dan Lasi jalan-jalan ke Singapura. Bu Lanting juga menjebak mereka di dalam hotel. Lasi yang merasa berhutang budi pada Pak Bambung lantaran dibelikan kalung seharga miliaran rupiah –meskipun bukan keinginannya- terpaksa menemaninya dalam hotel tersebut. Keesokan harinya Lasi diceraikan oleh Handarbeni.
Lasi sangat sedih karena perkawinannya yang kedua akhirnya kandas juga. Bu Lanting meminta Lasi agar mau dinikahi dengan Pak Bambung. Bu Lanting mengiming-imingi Lasi oleh kemewahan-kemewahan yang akan Lasi dapatkan selama menjadi istri Pak Bambung. Selain itu, ia mengancam Lasi, jika Lasi tidak mau menikah dengan Pak Bambung, maka akibatnya akan fatal. Bahkan, Lasi bisa dituduh melakukan pencurian kalung seharga milyaran rupiah.
Hati Lasi sangat gundah mendengar ia harus “dipaksa” menikah dengan Pak Bambung, akhirnya ia kabur dari tempat tinggalnya di Jakarta menuju Karangsoga. Di Karangsoga, ternyata ia bertemu dengan sesepuh desa yang bernama Eyang Mus. Eyang Mus banyak memberikan petuah-petuah kepada Lasi dalam menghadapi cobaan hidup. Lasi bercerita pada Eyang Mus bahwa ia ingin mengasingkan diri ke rumah pamannya di Sulawesi. Melihat hal itu, Eyang Mus meminta Kanjat, teman semasa kecil Lasi, agar mau menemani Lasi pergi ke Sulawesi. Namun, sebelum pergi, Eyang Mus menikahkan mereka berdua lantaran mematuhi norma dan tradisi setempat. Alangkah bahagianya hati mereka berdua, karena mereka sudah lama saling mencintai.
Setelah menikah, mereka pergi menggunakan kapal laut ke Sulawesi. Dalam perjalananya, ternyata Bu Lanting menemukan mereka dengan membawa beberapa orang polisi. Para polisi membawa paksa Lasi dengan tuduhan pencurian kalung. Kanjat pun tidak bisa berbuat apa-apa, karena pada nyatanya ia hanya menikah siri dengan Lasi, dan tidak dapat menunjukkan surat nikah yang sah pada polisi.
Lasi pun dibawa ke Jakarta. Ia dibawa ke Rumah Pak Bambung yang berada di sebelah timur Bundaran HI. Lasi meresa ada yang aneh pada tubuhnya, di rahimya ternyata tertanam benih anak Kanjat. Ia pun senang sekali. Lasi menelepon Kanjat dengan maksud untuk memberitahu berita tersebut. Mendengar itu, Kanjat senang sekali, ia ingin segera menyelamatkan Lasi. Namun Lasi berkata pada Kanjat bahwa ia dibawah penjagaan yang ketat oleh polisi. Lasi pun meminta Kanjat untuk bersabar, karena berdasarkan informasi dari Bu Lanting, Pak Bambung tidak menyukai perempuan hamil. Jadi, cepat atau lambat, Lasi pasti akan dibuang oleh Pak Bambung –demikian pikir Lasi-.
Selang beberapa bulan kemudian, Kanjat mendengar berita dari surat kabar dan televisi bahwa Pak Bambung ditahan oleh kepolisian lantaran melakukan korupsi besar. Lasi pun juga ditahan lantaran ia dimintai keterangan perihal kasus tersebut. Mendengar berita tersebut, Kanjat langsung pergi ke Jakarta ditemani Pardi, sopirnya. Ia langsung pergi ke pengacara Blakasuta yang merupakan teman sekolah Kanjat. Ia ingin meminta bantuan hukum pada pengacara tersebut. Akhirnya, dengan bantuan Blakasuta, Lasi bisa bebas dari penahanan dan ia dapat hidup di Karangsiga kembali bersama Kanjat.

8.      Riwayat Hidup Pengarang

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/id/f/f9/K.H._Ahmad_Thohari.jpg
Ahmad Tohari, (lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948; umur 66 tahun) adalah sastrawan Indonesia. Ia menamatkan SMA di Purwokerto. Namun, ia pernah mengenyam bangku kuliah, yakni Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976).
Dalam dunia jurnalistik, Ahmad Tohari pernah menjadi staf redaktur harian Merdeka, majalah Keluarga dan majalah Amanah, semuanya di Jakarta. Dalam karier kepengarangannya, penulis yang berlatar kehidupan pesantren ini telah melahirkan novel dan kumpulan cerita pendek. Beberapa karya fiksinya antara lain trilogi ''Ronggeng Dukuh Paruk'' telah terbit dalam edisi Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Tahun 1990 pengarang yang punya hobi mancing ini mengikuti International Writing Programme di Iowa City, Amerika Serikat dan memperoleh penghargaan The Fellow of The University of Iowa.
Penghargaan
Cerpennya berjudul Jasa-jasa buat Sanwirya mendapat Hadiah Hiburan Sayembara Kincir Emas 1975 yang diselenggarakan Radio Nederlands Wereldomroep. Novelnya Kubah (1980) memenangkan hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1980. Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), Jentera Bianglala (1986) meraih hadiah Yayasan Buku Utama tahun 1986. Novelnya Di Kaki Bukit Cibalak (1986) menjadi pemenang salah satu hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979.
Pada tahun 1995 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Asean, SEA Write Award.
Sekitar tahun 2007 Ahmad Tohari menerima Hadiah Sastra Rancage
Karya tulis
Karya-karya Ahmad Tohari telah diterbitkan dalam bahasa Jepang, Tionghoa, Belanda dan Jerman. Edisi bahasa Inggris Ronggeng Dukuh Paruk , Lintang Kemukus Dini Hari , Jantera Bianglala diterbitkan oleh Lontar Foundation dalam satu buku berjudul The Dancer diterjemahkan oleh Rene T.A. Lysloff.
Pada tahun 2011, trilogi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk diadaptasi menjadi sebuah film fitur yang berjudul Sang Penari yang disutradarai Ifa Isfansyah. Film ini memenangkan 4 Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 2011.


0 komentar:

Posting Komentar