Aku menunggu
setengah jam sampai toko bunga itu buka. Tapi satu jam kemudian aku belum
berhasil memilih. Tak ada yang mantap. Penjaga toko itu sampai bosan menyapa
dan memujikan dagangannya.
Ketika
hampir aku putuskan untuk mencari ke tempat lain, suara seorang perempuan
menyapa.
“Mencari
bunga untuk apa Pak?”
Aku menoleh
dan menemukan seorang gadis cantik usianya di bawah 25 tahun. Atau mungkin
kurang dari itu.
“Bunga untuk
ulang tahun?”
“Yang
harganya sekitar berapa Pak?”
“Harga tak
jadi soal.”
“Bagaimana
kalau ini?”
Ia memberi
isyarat agar aku mengikuti.
“Itu?”
Ia menunjuk
ke sebuah rangkaian bunga tulip dan mawar berwarna pastel. Bunga yang sudah
beberapa kali aku lewati dan sama sekali tak menarik perhatianku.
“Itu saya
sendiri yang merangkainya.”
Mendadak
bunga yang aku lihat dengan sebelah mata itu berubah. Tolol kalau aku tidak
menyambarnya. Langsung aku mengangguk.
“Ya, itu
yang saya cari.”
“Dia
mengangguk senang.
“Mau diantar
atau dibawa sendiri?”
“Bawa
sendiri saja. Tapi berapa duit?”
Ia kelihatan
bimbang.
“Berapa
duit?”
“Maaf
sebenarnya ini tak dijual. Tapi kalau Bapak mau, nanti saya bikinkan lagi.”
“Tidak, aku
mau ini.”
“Bagaimana
kalau itu?

