»

Laman

Jumat, 12 September 2014

Surat untuk Sahabat: Menanti Rona

Note: Dibuat dalam rangka mengikuti Lomba Surat untuk Sahabat yang diadakan Radar Kediri, Radar Nganjuk, dan BNN Nganjuk tahun 2014
                                                                        

Dear Rona, My Livelong Playmate ...
Apa kabar kawan masa kecilku? Apakah harimu masih indah se-indah mimpi-mimpimu di kala kau beranjak sepuluh tahun? Mimpi yang pernah kau gumamkan saat bibir mungilmu meniup lilin di atas kue tart bertumpuk tiga tingkat itu? Mimpi yang dua tahun kemudian melebur bersama aspal-aspal jalanan, merenggut, dan mengubur hidup-hidup segala keindahan masa sekolahmu. Beban hidup yang kau tanggung seorang diri, memaksamu menyelami panasnya metropolitan, bergumul dengan puluhan pengais nafkah jalanan, bahkan membaringkanmu di emperan toko di kala matahari pun enggan memicingkan matanya.
Apa kabar Rona, teman bermain dan mengajiku? Apa kau masih saja bergumul dengan hitamnya pelangi yang tak menjanjikan secuil mimpi, yang hanya memberikanmu paranoid ketika kau bersamanya? Hanya pil-pil pahit ini sebab kau ingin mencari pelipur lara. Kau torehkan kulit putihmu dengan jarum suntik sebagai bagian upaya lari dari segala kelam. Mungkin jalan ini tak sepenuhnya keinginanmu, Sayang. Aku berusaha memahami. Kau tak biasa hidup dalam ke-sebatangkara-an. Kau terlahir dengan cukup indah, dengan ayah bundamu yang senantiasa mencurahkan kasih sayang. Tentu kau tak perlu banyak merengek untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Ingatkah saat kau membuat iri banyak temanmu ketika ayahmu membawakanmu segudang mainan? Lantas dengan senang hati kau bagikan mainan-mainan itu ke temanmu-temanmu yang tak seberuntung kamu. Sungguh mulia hatimu, Rona.

Minggu, 11 Mei 2014

Nulis Biografi, Yuk!

Dalam pengantar biografi Kurt Cobain, Heavier Than Heaven, Charles R. Cross menuliskan perjuangannya mengumpulkan ribuan dokumen, ratusan keping cakram, dan 400 wawancara vokalis grup band Nirvana itu. Hasilnya, sungguh ciamik. Ia menampilkan Cobain ke tengah pembaca seperti sutradara film tiga dimensi. Begitu hidup. Termasuk saat menggambarkan detik-detik menjelang sang legenda mengulum ujung sejata dan menghujamkan pelor ke otaknya.

Sayang, tak banyak penulis biografi kita yang memiliki kemewahan seperti itu, "Kebanyakan penulisan biografi didasarkan atas penggalian satu sumber, yaitu tokoh yang akan dibiografikan," kata Maman Gantra yang terlibat dalam penulisan 11 biografi. "Akibatnya yang keluar bukannya biografi, tapi lebih seperti otobiografi."

Itu dapat dimengerti karena buku-buku biografi yang belakangan membanjiri rak toko buku adalah pesanan sang tokoh sendiri. Akibatnya, sudut pandang sang tokoh menjadi faktor terpenting. Kalau pun ada sumber lain, itu harus seizin, atau paling tidak mendukung keinginan sang tokoh. "Biasanya cuma untuk konfirmasi sejumlah data, tapi pun tidak bisa sepenuhnya dilakukankarena keterbatasan dokumentasi sejarah disini," kata Maman.

Masih lumayan jika sang tokoh memang memiliki kisah hidup yang cukup menarik, seperti Andi Matalatta yang biografinya, Meniti Siri dan Harga Diri, ditulis oleh Maman. IA cukup mengirim pertanyaan dan sang jenderal akan mengetikkan sendiri kisah hidupnya secara lengkap dan terperinci. "Saya tinggal mengeditnya, karena kisah hidupnya memang luar biasa," kata Maman.

Tapi bandingkan dengan pengalamaan seorang penulis biografi lain yang minta namanya tak disebut, Ia mengaku sering pusing tujuh keliling karena tokohnya tidak memiliki catatan prestasi yang cukup baik, terutama di masa mudanya. "Akhirnya saya harus mengakali dengan dengan mengait-ngaitkannya dengan