Oleh Maroeli Simbolon, S.Sn
bulan di atas kuburan
Demikian isi puisi ”Malam Lebaran” karya Sitor Situmorang. Puisi sebaris,
teramat pendek, dan sederhana yang menimbulkan polemik. Di antaranya, banyak
bersuara nyinyir, ”Cuma sebegitukah menulis puisi? Sesederhana itukah puisi?
Berarti, gampang menulis puisi — tak perlu sampai ‘berdarah-darah’ dan
samedhi.” Benarkah demikian?
Bagi penyair, puisi adalah kebanggaannya, aliran darahnya, pelepasan
ekspresinya, kepribadiannya, ciri khasnya, napas hidupnya – bahkan, sarana
mencari sesuap nasi. Penyair menjadi mati – disebut tak berkarya – jika tidak
menulis puisi. Sekian banyak kredo yang disampaikan penyair untuk menguatkan
puisi — seperti kredo Sutan Takdir Alisyabana, Chairil Anwar, dan Sutardji
Calzoum Bachri; dan bejibun arti yang dikemukakan para ahli mengenai puisi,
tetapi bagi orang awam, puisi adalah puisi – barisan kata dan kalimat yang
mempunyai bait, rima, irama, dan sebagainya. Artinya, puisi tidak sepenting doa
atau kitab suci.
***